Kasus Keluarga Bongkar Paving Jalan Desa Gading Kulon Naik ke Persidangan

dok. Pembongkaran paving jalan desa Gading Kulon.
dok. Pembongkaran paving jalan desa Gading Kulon.

Probolinggo, blok-a.com – Kasus pemblokadean dan pembongkaran paving jalan oleh Ahmadi Cs, warga RT 06 RW 03 Dusun Krajan Desa Gading Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, yang mencuat 23 Juni 2023 lalu naik ke persidangan.

Besok, Selasa (25/7/2023) perkara yang sulit didamaikan secara kekeluargaan itu mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Probolinggo di Kraksaan.

Kabar ini dibenarkan Kepala Desa Gading Kulon, Jumadi. Ia mengatakan masalah itu sudah lama dan berkali-kali dimediasi bahkan hingga ganti tiga Camat namun gagal didamaikan.

“Ironisnya itu, kita semua ingin hidup di desa yang aman, damai, tenteram, dan kompak dengan tetangga, apalagi ini masih ada ikatan keluarga,” ujar Kades, saat dikonfirmasi, Senin (24/7/2023).

Dia bercerita bahwa paving itu sebenarnya yang membangun adalah pemerintah desa.

“Waktu itu saat penutupan jalan, yang turun dari kecamatan, Polsek, Koramil, dan anggota DPRD sebagai penengah. Tapi mediasi gagal,” ujarnya.

Kades Jumadi membenarkan kasus itu sudah ditangani dan diproses di Pengadilan.

“Besok ini sudah panggilan sidangnya. Yang disidang itu perkara perusakannya. Namun soal tanah dan sertifikat urusan ahli waris mereka,” ujarnya.

Sebelumnya, aksi pembongkaran paving jalan desa oleh keluarga Ahmadi,Cs, terjadi pada 31 Juni 2023.

Paving jalan desa yang dibangun pemerintah desa sejak 2017, hasil swadaya gotong-royong masyarakat itu pun rusak sepanjang 10×2 meter.

Yang heboh, kala itu aksi Ahmadi Cs, melakukan penutupan dan pemagaran, sehingga warga kesulitan mengakses jalan.

Termasuk 13 rumah yang tinggal di samping rumah pelaku tak bisa keluar masuk.

Salah satu tetangga membenarkan kasus itu bulan kemarin heboh.

Awalnya kejadian itu sempat kisruh dan menggegerkan masyarakat, namun kini sudah selesai. Apalagi usai bongkar paving Ahmadi Cs, menutup total akses jalan atau memblokade jalan dengan bambu.

“Kami dulu sudah berusaha mengadukan desa dan camat Banyuanyar Abdul Ghofur, bahkan beliau mau lewat ndak bisa. Sekarang sudah dibuka walaupun masih ada batas. Katanya pasang paving dulu tanpa izin kepada mereka sebagai pemilik tanah, katanya dasarnya sertifikat 2010,” ujar B, warga setempat.

Menurutnya, malah seingatnya tanah seluruhnya di sekitar kawasan itu milik Almarhum Mbah Jawan, sesepuh keluarga mereka.

“Jika tetiba ada sertifikat, lalu keluarga tidak pernah ada yang merasa tanda tangan jual beli, yaa aneh kan. Untuk itu kami sudah melaporkan Ahmadi Cs, ke Polres Probolinggo,” ujarnya.(rid/lio)